Papua Post Interactive's Site

Blog EntryNOVEL BARU TENTANG PAPUA: RATAPAN TANAH SORGAMar 4, '08 1:21 AM
for everyone

Judul:


RATAPAN TANAH SORGA; Tragedi Penderitaan Seorang Pemuda Papua dalam Bayang-bayang Penjajahan.


Penulis:


Yakobus Odiyaipai Dumupa


Penerbit:


Paradise Press


Tahun terbit:


2008


Tebal:


viii + 368



Daftar Isi:


Persembahan


Kata Hati Penulis



Sebuah Kehidupan Baru


Mata Dicungkil, Kepala Dikuliti


Potong Telinga


Menyembah Merah Putih


Gara-gara Indonesia Raya


Cerita Penderitaan


Tim Kasuari Yang Brutal


Saksi Bisu Jembatan Kali Tuka


Tangisan Kejora Taman Imbi


Provokasi Kongres Papua 2000


Penyisiran Asrama


Di Tepi Laut Skow Yambe


November Kelabu


Politik Rasial Pasar Abepura


Atas Nama K T P


Hukum Karet Poltabes Yogyakarta


Jakarta Yang Menegangkan


Desiran Angin Malam Sukabumi



Tentang Penulis



Cuplikan Pengantar Penulis:


Novel ini adalah kisah nyata semua bentuk penjajahan Indonesia di Papua. Dalam kisah ini, saya menempatkan diri dalam dua posisi sekaligus, yaitu sebagai korban dan sebagai saksi. Saya menjadi korban dengan dua alasan. Pertama, karena saya mengalaminya sendiri. Kedua, karena dialami pula oleh nenek moyang dan saudara-saudari sebangsa saya yang antara mereka dan saya terikat oleh "darah" biologis dan kebangsaan. Saya menjadi saksi karena semuanya terjadi di depan mata saya dan diceritakan secara turun-temurun oleh orang tua saya dan nenek moyang kami sebelumnya.



Beban sebagai korban dan saksi tidak dapat saya pendam. Ya, ibaratnya bom waktu yang hanya menunggu waktunya untuk meledak. Ketidakmampuan saya sebagai manusia untuk meredam semuanya, akhirnya meledak dalam novel ini, walau saya sadari bahwa saya – sebagaimana semua orang Papua – dipaksa untuk meredam semua duka nestapa itu dalam dekapan bedil, sepatu lars, pisau sangkur dan api dan berbagai cemoohan konyol lainnya. Saya tidak perduli sama sekali dan malas tahu dengan bentuk pertanggung jawaban yang diminta oleh negara ini kepada saya jika dianggap "pemberontak" atau "separatis" atau "subversi" dengan menceritakan kisah penderitaan saya dan bangsa saya.



Saya menceritakan semua duka nestapa yang saya alami dan saya saksikan sesuai dengan perjalanan waktu sejak saya dilahirkan dengan identias saya sendiri hingga sekarang ini. Semua kekerasan dan cemoohan yang sering berakhir pada kematian "atas nama" kedaulatan negara dan kesatuan bangsa dapat dibaca dalam setiap penggal novel ini.



 




Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design - Copyright © 2005 sonnenvogel.com All rights reserved.